Friday, July 13, 2012

Saya,Hijab,dan Takdir Allah by Deby Aprilia Haryani


Bissmillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum wr wb

Ketika saya menceritakan pengalaman hijab pertama saya, saya selalu terbang ke masa SMA saya. Bukan, bukan karena saya berhijab sejak SMA, tapi alasan terkuat saya berhijab berhubungan dengan satu prinsip saya saat SMA. Jadi, letak SMA saya dulu di kompleks persekolahan di sebuah kota di Kabupaten yang terkenal akan desa wisata Tawangmangu. SMA saya terletak di paling timur kompleks dan di baratnya ada satu SMA islam yang cabangnya sudah ada bahkan hampir di setiap Kabupaten/Kota. Sayangnya, siswa-siswi SMA tersebut masih belum islami, setidaknya sebagian besar. Contoh yang berhubungan dengan cerita ini adalah diwajibkannya berjilbab bagi setiap siswi. Menurut saya niatnya sangat baik. Akan tetapi pada akhirnya, siswi yang bersekolah disitu mengenakan jilbab seakan hanya menaati peraturan saja, bukan karena kesadaran menutup aurat. Mereka berjilbab, tapi berponi. Mereka berjilbab, tapi dari belakang terlihat rambutnya yang tergerai. Mereka berjilbab di sekolah, tapi melepasnya setelah dua langkah dari gerbang sekolah.

Saat itu saya memang belum berjilbab, bahkan saya tidak mengetahui bahwa hijab itu wajib bagi muslimah. Tapi satu prinsip saya sehingga saya tidak menyukai orang-orang seperti siswi sebelah sekolah saya tadi: Komitmen. Menurut saya saat itu, ketika mereka sudah memilih SMA tersebut untuk melanjutkan studi, mereka harus total menaati segala peraturan yang ada termasuk berjilbab. Jika mereka memberikan alasan belum siap untuk berjilbab, itu artinya mereka tidak siap sekolah di situ dan sekolah itu tidak tepat untuk mereka pilih atau mereka harus komitmen dengan ketidaksiapan mereka berjilbab dengan berani tidak berjilbab di area sekolah. Begitu idealisnya saya saat itu

 Kemudian pada 2008 saya lulus SMA dan saatnya saya memilih jurusan yang sesuai dengan cita-cita. Cita-cita saya sebenarnya adalah menjadi presenter berita di salah satu stasiun televisi swasta terkemuka di ibukota, ini timbul sejak saya menjadi penyiar salah satu radio swasta terkemuka di radio swasta Kota Solo sejak 2007. Tetapi, kedua orang tua saya menginginkan saya menjadi seorang dokter. Saya pikir dokter yang juga presenter berita bukanlah hal yang tidak mungkin. Selanjutnya, saya berjuang untuk menjadi mahasiswa fakultas kedokteran manapun yang disarankan kedua orang tua saya. Tapi takdir berkata lain, tidak satupun ujian meloloskan saya.

Sampai akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa fakultas kedokteran hewan di universitas ternama di Yogyakarta. Dalam memilih fakultas tersebut tentu saja saya tidak asal. Saya mempunyai rencana. Saat itu Papp sedikit terlihat kurang puas, walau mendukung pilihan saya dengan membiayai perkuliahan saya. Dua semester saya di fakultas tersebut, Papp meminta saya untuk mencoba kembali peruntungan menjadi dokter di beberapa universitas. Saya pikir tidak ada salahnya dan mencoba beberapa universitas yang tahun kemarin sudah menolak saya. Saya niatkan semuanya karena Allah. Saya yakin jika memang takdir saya dapat menjadi dokter, Allah akan memudahkan jalan saya. Benar saja, saya diterima di fakultas kedokteran di salah satu universitas islam di Semarang. Universitas tersebut adalah almamater Mam dan tempat dimana kakak saya melanjutkan studi juga.

Perasaan saya bahwa ini adalah takdir Allah semakin kuat. Karena tahun sebelumnya saya juga mendaftarkan diri bahkan hingga 4 jalur ke universitas tersebut, tapi semuanya nihil walaupun dengan persiapan yang sangat matang. Tetapi, satu tahun setelahnya, 2009, dengan persiapan yang sangat minim karena saya juga harus membagi waktu saya dengan mengerjakan tugas-tugas dari kampus, dengan sekali ujian saja di satu jalur, Alhamdulillah saya diterima. Akhirnya, saya meninggalkan studi saya di Yogyakarta dan pindah ke Semarang. Seperti yang tadi sudah saya bilang, universitas saya sekarang adalah universitas islam. Diwajibkan bagi seluruh mahasiswinya untuk berjilbab. Keadaan tersebut seakan menampar saya. Allah seakan menunjukkan bagaimana rasanya menjadi siswi “SMA sebelah” dan menguji saya apakah prinsip saya hanya sebatas di mulut saja.

Beberapa bulan sebelum hari pertama Ta’aruf (sebutan Ospek di universitas tersebut) merupakan hari yang sangat dilematis. Saat itu saya takut karir saya sebagai penyiar radio dan MC akan rusak karena saya berjilbab. Tapi, saya juga malu terhadap diri sendiri jika saya menjadi apa yang dulu saya sangat tidak suka. Agustus 2009, saya sangat ingat bulan dan tahun itu. Bulan dan tahun dimana saya pertama kali mendatangi Pekan Ta’aruf dan memantapkan hati untuk berjilbab, berhusnudzon pada Allah bahwa Ia akan melimpahkan rezeki dan mempermudah segala urusan bagi hamba yang taat kepadaNya. Saat Ta’aruf itulah di satu sesi kuliah, saya semakin mantab dengan jilbab saya, dengan hijab saya, memahami satu ayat, Al Ahzab: 59, yang disampaikan oleh seorang dosen di depan: “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu dan istri orang-orang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Maha besar Allah dengan segala firmanNya. Ya, sejak saat itu, saya tidak lagi memikirkan bagaimana nanti karir penyiar radio dan MC saya.

Alhamdulillah, rahmat Allah tidak berhenti di situ saja. Tidak lama setelah itu saya diterima menjadi penyiar di salah satu radio swasta di kota Semarang juga beberapa tawaran MC acara fakultas dan universitas yang tentu saja tidak mempermasalahkan jilbab saya dan tetap meberikan fee secara profesional. Sekarang, Subhanallah, lihat saja, semakin banyak wanita berjilbab, berhijab, dan mereka tidak kehilangan sedikitpun kecantikan atau karirnya. Bahkan dengan hijab mereka mendulang sukses dan mampu menjadi contoh yang baik bagi muslimah lainnya. Semoga Allah menjadikan saya salah satu dari mereka, semoga saya mampu menjadi muslimah yang bermanfaat bagi sesama. Alhamdulillahirrabil’alamin Wassalamu’alaikum wr wb

4 comments:

  1. Yaaayyy!!! Yuuuk,vote #hijabstories sayaaa, nge vote nya dg komen kan ya,Mba Nia?

    ReplyDelete
  2. Subhanallah, ,semoga tetap istiqomah,sayang. . :)

    ReplyDelete
  3. jilbabnya bagus........tipis...malah jd makin seksi lho....

    ReplyDelete
  4. Jilbab itu bagus tapi kemaren ada wanita berjilbab jadi kebiadaban iskandar pensiunan polisi dari kroco. diceraikan ama suaminya, dua anaknya terlantar. iskandar menidurinya ... kasihan dan malang sekali. Untukmu Iskandar engkau telah bersenggama dengan banyak wanita muda dan PSK tapi ketika engkau menyetubuhi isteri orang bahkan dengan pemaksaan maka itu perbuatan biadab yang harus kau pertanggungjawabkan. dan ingat balasan ke anak cucucmu yaaa

    ReplyDelete